A’udzubillahiminasysyaithanirrajim,
Bismillahirrahmanirrahim
“…dan Kami turunkan kepadamu manna dan salwa. Makanlah dari makanan yang baik-baik yang telah Kami berikan kepadamu…” (QS. 2: 57)
“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Merekalah orang-orang yang fasik. ” (QS. 59: 19)
“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS. 2:152)
Pagi itu ba’da shubuh saya merebahkan badan di atas tempat tidur, karena mushaf ditinggal di ruang kerja jadi saya tidak bisa tilawah. Sebagai gantinya saya mendengarkan alunan murottal merdu Syekh Musyaari Rasyid dari mp3 player sambil menutup wajah dengan kain. Saya memutar surat al-Baqarah dan mulai menyimak sambil memejamkan mata, ayat demi ayat mulai mengalun pelan dan merdu. Sejenak mata saya terpejam karenanya. Pagi yang sejuk diiringi lantunan ayat suci membuat hati terasa tenang dan nyaman, akhirnya saya benar-benar tertidur dan beberapa saat kemudian terbangun kembali. Tanpa sadar air mata setetes demi setetes berjatuhan, ada gejolak rindu yang menderu, dan ada bongkah resah yang membuncah. Malu, harap, cemas, dan kerinduan akan pertemuan dengan-Nya terasa begitu kuat. Malu karena kualitas dan kuantitas ibadah yang teramat sedikit, cemas akankah kelak bisa memperoleh rahmat dan ampunan-Nya. Namun, hati ini tidak boleh putus asa untuk tetap berharap dan menumbuhkan kerinduan akan pertemuan dengan Rabb.
Ikhwah fillah, ingatlah suatu dialog yang terjadi antara Allah SWT dengan seorang pemuda yang shalih di hari penentuan. Ketika itu sang pemuda akan dimasukan oleh Allah ke dalam syurga, namun bukan karena amalnya ia dimasukkan ke sana melainkan karena Allah kasihan kepadanya. Sang pemuda pun protes dan merasa tidak adil, kenapa ia dimasukkan ke dalam syurga hanya karena Allah kasihan kepadanya bukan karena amal ibadahnya? Lalu Allah SWT memerintahkan malaikat untuk menghitung nikmat-nikmat yang telah Allah berikan kepadanya dan menimbangnya dengan amal ibadah yang telah dilakukan pemuda tersebut. Ketika belum habis nikmat mata dihitung, timbangan amal ibadah pemuda itu tidak sanggup untuk bisa menandingi jumlah nikmat yang telah diberikan. Barulah ia sadar bahwa dirinya telah kufur, akhirnya ia meminta agar Allah mengasihaninya agar ia dimasukkan ke dalam syurga. Dan demikianlah Allah Yang Maha Pengasih pun memasukkan pemuda itu ke dalam syurga.
Ikhwah fillah, apa yang bisa kita lihat dari kisah ini? Ternyata amal ibadah kita tidaklah bisa menjadi jaminan untuk bisa membawa kita ke dalam syurga Allah yang penuh nikmat. Melainkan keridhoan Allah dan penghasihan-Nyalah yang akan menyelamatkan kita dari azab neraka yang maha pedih. Namun bukan berarti amal dan ibadah kita sia-sia, melainkan semakin tinggi kualitas dan jumlah amal ibadah kita maka semakin besarlah rasa sayang Allah kepada kita. Bukankah demikian?!
Sejenak mari kita renungkan kembali kisah di atas, ada yang perlu kita sadari bahwa, nikmat Allah begitu luas, dahsyat dan tak terhingga. Jika lautan dijadikan tinta untuk menghitung nikmat-Nya maka tidak akan sanggup untuk menuliskan semuanya. Nyatalah bahwa Allah begitu besar kasih sayang-Nya terhadap kita, sekalipun kita kufur, sekalipun kita lalai, tak pernah terhenti nikmat Allah mengalir dalam setiap detik kehidupan yang kita jalani.
“Dan Dialah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian, pendengaran, penglihatan dan hati. Amat sedikitlah kamu bersyukur” (QS. Al-Mu’minun: 78)
Sadar atau tidak, kita adalah manusia yang lebih banyak kufur dari pada bersyukur atas nikmat-nikmat Allah. Waktu adalah salah satu nikmat Allah yang sering kita lalaikan, sering kali kita menyia-nyiakannya padalah usia kehidupan kita di dunia ini amatlah singkat. Terkadang bahkan sering kali kita merasa malas untuk shalat padahal Allah telah memberi kesempatan untuk bangun di tengah malam. Naudzubillah. Atau pada waktu-waktu senggang di pagi hari, di mana Allah membuka pintu rahmat bagi hambanya yang melaksanakan Dhuha, kita lebih suka berkutat dengan kesenangan dunia, kesibukan kerja dan lain sebagainya. Ah semakin berat saja rasanya perjalanan ini, sedangkan hanya sedikit bekal yang kita miliki.
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (QS. Ibrahim: 7)
Mari kita berkaca pada sejarah Nabi Ibrahim, beliau sanggup mengorbankan puteranya Ismail yang lahir setelah sekian lama menanti kehadiran seorang putera. Namun atas kecintaannya kepada Allah yang melebihi kecintaannya kepada diri dan keluarganya ia sanggup merelakannya dengan penuh ikhlas. Namun Allah Yang Maha Pengasih menggantikan Ismail dengan seekor domba ketika akan disembelih karena Allah hanya ingin menguji seberapa besar kadar kecintaan Ibrahim AS kepada Tuhannya. Demikianlah sehingga Nabi Ibrahim AS menjadi hamba Allah yang telah lulus dari ujian, dan Allah mengabadikan kisah ini sebagai pelajaran bagi kita. Inilah contoh kesyukuran yang tak lekang oleh kenikmatan dunia, dan pelajaran bagi kita bahwa cinta kita kepada Allah harus melebihi kecintaan kita kepada apapun di dunia ini, termasuk cinta kita kepada diri sendiri.
Saudaraku, mensyukuri nikmat Allah berarti kita memanfaatkan segala anugerah Allah tersebut untuk melakukan ibadah dan kebaikan. Pepatah mengatakan bahwa orang yang paling bahagia ialah orang yang pandai bersyukur. Kebahagiaan yang dirasakannya tidaklah semasa hidup di dunia saja, melainkan Allah telah menjanjikan pula kebahagiaan di akhirat bagi hamba-hambanya yang bersyukur.
“Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nisa: 147)
Semoga Allah menjadikan kita dan hati-hati kita menjadi hati-hati yang pandai bersyukur dan tidak lalai atas nikmat yang diberikan-Nya kepada kita. Dan semoga kita tergolong sebagai hamba-hamba yang mendapat pengampunan, ridho dan pengasihan-Nya. Amin ya rabbal’alamin!